Nonton film Noktah Merah Perkawinan, Lika-Liku Permasalahan Rumah Tangga yang Menguras Emosi idlix , lk21, dutafilm, dunia21

Noktah Merah Perkawinan, Lika-Liku Permasalahan Rumah Tangga yang Menguras Emosi

Posted on Views: 477

Noktah Merah Perkawinan, Ribetnya Berumah Tangga

Konflik kehidupan rumah tangga selalu jadi tontonan atraktif bagi para penikmatnya. Pasalnya, drama yang disuguhkan bisa membuat penonton ikut gregetan dari tindakan para karakternya. Indonesia mempunyai banyak deretan judul sinetron bertema konflik pernikahan yang kerap berseliweran di berbagai stasiun televisi. Tak tanggung-tanggung, bahkan dapat mencapai ratusan episode dengan masa tayang sampai tahunan. Salah satu tayangan legendaris di layar kaca yaitu Noktah Merah Perkawinan.

Sinetron Indosiar produksi Rapi Films ini cukup fenomenal pada masanya. Kini, Rapi Films kembali menggarap ulang sinetron legendaris itu dalam medium film layar lebar. Noktah Merah Perkawinan sudah resmi tayang di bioskop sejak 15 September 2022 lalu. Sabrina Rochelle selaku sutradara masih menghadirkan masalah yang sama dengan sinetron terdahulu. Penonton akan kembali diajak bernostalgia dengan adegan “tampar aku mas”.

Jalan Cerita

Noktah Merah Perkawinan berfokus pada rumah tangga Ambar (diperankan Marsha Timothy) dengan suaminya, Gilang (Oka Antara). Berkisah Ambar dan Gilang sudah 10 tahun membina rumah tangga dan telah dikaruniai dua anak, Bagas (Jaden Ocean) dan Ayu (Alleyra Fakhira).

Meski telah 10 tahun bersama, kedua sejoli ini kerap bertengkar hebat yang membuat rumah tangganya renggang. Ditambah intervensi keluarga masing-masing menambah ketidakharmonisan. Mereka sampai harus mendatangi penasihat pernikahan untuk menemukan solusi. Pilihannya tetap bersama atau bercerai. Masalah kian runyam saat orang ketiga bernama Yulinar (Sheila Dara) memasuki kehidupan mereka.

Durasi hampir dua jam lantas tak membuat penonton bosan. Adegan-adegan sepanjang film mampu menguras emosi penonton. Akting Marsha Timothy sebagai Ambar terbilang memukau. Ia bisa membawa penonton merasakan bagaimana seorang istri harus memikirkan semua urusan keluarga.

noktah-merah-perkawinan-scene

Pun dengan Oka Antara berhasil memerankan sosok Gilang yang selalu terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Ia seolah tampak menghindari segala masalah. Jelas saja Ambar makin berang dengan sikap Gilang tersebut.

Konflik pasutri ini sukses memberikan nuansa tegang. Bahkan adegan ikonik “tampar aku, mas” dieksekusi dengan baik secara emosional. Dua karakter pasutri yang ditampilkan tidak membuat penonton mudah buat menilai mana yang salah dan benar. Mereka dibuat berimbang sehingga penonton tak perlu dipusingkan untuk memihak salah satunya.

Jangan lupakan sosok Yuli. Ia berbeda dari penggambaran orang ketiga kebanyakan. Gilang betah karena Yuli selalu tenang dan tidak agresif.

idks-situs-slot

Soundtrack yang Dramatis

Penuturan dialog dalam film ini terasa sangat realistis layaknya percakapan di kehidupan sehari-hari. Inilah membuat penonton terasa dekat dengan kisahnya. Terlebih didukung dengan soundtrack yang buat suasana jadi lebih dramatis.

Lagu berjudul Noktah Merah Perkawinan masih mengisi soundtrack film. Lagu ini diperbarui dan dibawakan oleh Isabel Azhari, anak dari Ayu Azhari, pemeran utama dalam versi sinetronnya. Kehadiran lagu tersebut seakan masih jadi magis tersendiri sebab liriknya yang dalam mampu mendramatisir sejumlah adegan.

Sepertinya sang penulis skenario Titien Wattinmena sudah memikirkan matang-matang segala keruwetan urusan rumah tangga Ambar dan Gilang. Begitu pun dengan Sabrina yang mampu menggemasnya dengan apik.

Sudah pasaran jika akhir dari polemik rumah tangga adalah perceraian. Wattimena mengambil jalan berakhir positif. Meski terasa klise, tapi akting hebat dari Oka Antara untuk rujuk membuat penonton akan menerimanya dengan mudah.

Film ini membawa penonton mengerti posisi Ambar, turut merasakan sulitnya menjadi Gilang serta juga memahami perasaaan anak-anak yang menjadi korban. Beragam sudut pandang hadir tanpa berusaha menghakimi. Bahkan untuk urusan pelakor, kendati kehadirannya acap disebut perebut, film ini masih tetap memanusiakan Yuli. Penonton dibuat mengerti rumitnya sebuah cinta yang tumbuh kepada orang dan waktu yang tidak tepat.